Pengalaman Pertama Kerja di Rumah Makan Seruni Jakarta

Pengalaman pertama kerja  di Rumah Makan Seruni Jakarta. Sengaja aku sebutkan nama rumah makannya supaya aku tidak lupa dengan pengalaman pertama kerjaku. Karena di situlah awal aku lebih mengenal dunia.

Kerja merupakan kewajiban bagi setiap orang yang sudah tumbuh dewasa dan mandiri. Menurutku, kerja juga merupakan faktor pendukung kelangsungan hidup seseorang. Karena, tanpa kerja seseorang tidak mungkin punya penghasilan atau pemasukan untuk memenuhi kebutuhan kelangsungan hidupnya.

pexels.com

Namun, bukan berarti kerja adalah segala-galanya. Karena, seseorang pasti butuh kebahagiaan dalam hidupnya, dan tidak mungkin hanya dengan kerja seseorang sudah mendapatkan kebahagiaan. Kerja hanyalah salah satu faktor dari banyak faktor penunjang kebahagiaan.

Itulah  pelajaran hidup yang aku dapatkan dari pengalaman selama aku kerja dulu. Ya… Setidaknya, aku jadi tahu banyak hal tentang kehidupan sebenarnya.

Pengalaman Pertama Kerja di Rumah Makan Seruni

pexels.com

Waktu itu, aku masih berumur-15 tahun. Tepatnya, setelah kelulusan sekolah menengah pertama (SMP). Aku tidak langsung melanjutkan sekolah ke tingkat berikutnya. Ya… Dikarenakan ada faktor yang tidak mendukung. Waktu itu  ada teman yang mengajakku untuk kerja di Jakarta.  Jadi, setelah lulus SMP dari pada bingung mau ngapain, aku ikut ajakan temanku kerja di Jakarta.

Sebenarnya, orang tua belum mengizinkan aku kerja, apa lagi sampai merantau. Namun, karena aku memaksa, akhirnya orang tua mengizinkan. Setelah mendapat izin, beberapa hari kemudian aku berangkat ke Jakarta bersama temanku.

Singkat cerita aku sampai di lokasi, yaitu di Rumah Makan Seruni. Hari demi hari terus berjalan, aku pun sudah mulai sibuk dengan aktivitas kerjaku. Hari pertama, aku bener-bener merasakan bagaimana capenya orang kerja.

Apa lagi waktu itu karyawan di rumah makan tersebut masih sedikit. Jadinya, hampir semua bagian pekerjaan di lakukan sendiri. Dari melayani tamu, mengantar pesanan, mencuci piring dan membersihkan meja.

Senangnya Ketika Pertama Kali Menerima Upah Kerja

pexels.com

Setelah seminggu sibuk dengan aktivitas kerja, akhirnya semua rasa cape terbayar juga. Di tempat pertamaku kerja dulu, upah kerjanya dibayarkan setiap seminggu sekali. Rasanya senang sekali, saat menerima  upah kerja tersebut. Karena itu merupakan upah kerja pertamaku.

Meskipun jumlahnya tidak banyak, tapi itu adalah uang hasil keringat sendiri. Waktu itu, uangnya tidak langsung aku pakai. Aku kumpulin sampai sekitar  satu bulan, baru aku pakai untuk beli keperluan. Di tempat tersebut upah kerjaku utuh. Karena, makan dan tempat tidur sudah disediakan dari rumah makan tersebut. Jadi lebih mudah untuk mengumpulkan  upah mingguan tersebut.

Tapi, keadaan berubah setelah aku mengenal lingkungan sekitar rumah makan, dengan seketika aku menjadi orang yang boros. Karena, hampir setiap hari ketika selesai kerja, aku nongkrong di warung kecil yang bertempat tidak jauh dari tempat kerjaku.

Hingga aku menyadari kalau terus-terusan seperti itu, uangku pasti tidak bisa terkumpul. Aku pun mulai berusaha untuk mengurangi  hal tersebut. Hari demi hari, namun rasanya berat untuk ngurangin hal tersebut, karena selama ada uang di dompetku, jajan tidak bisa terbendungkan.

Akhirnya, aku pun berpikir keras. Bagaimana caranya agar uangku bisa terkumpul tapi tidak di dompetku. Hingga akhirnya aku mengambil keputusan untuk minta tolong kepada pemilik rumah makan tersebut. Agar, upah mingguanku diganti menjadi bulanan, dan alhamdulillah disetujui.

Tukang Parkir

pexels.com

Waktu demi waktu aku semakin mengenal orang-orang di sekitar lingkungan tempat kerjaku. Yang masih melekat diingatanku adalah seseorang yang sangat baik. Namanya Bapak Sajam, beliau seorang pengusaha rumah makan juga. Tempatnya usahanya dekat dengan tempat kerjaku.

Beliau juga dekat dengan pemilik rumah makan tempat aku bekerja. Beliaulah juga yang pertama kali mengajariku ketika aku belum tahu tentang pekerjaan di rumah makan. Orangnya penyabar dan sangat baik. Sering mengajak aku jalan-jalan dan makan bersama.

Di tempatku kerja, setiap Hari Sabtu dan Minggu pasti libur. Tapi, tidak dengan rumah makan Bapak Sajam. Ketika aku lagi libur, aku selalu disuruh untuk menjaga kendaraan-kendaraan pembeli atau pengunjung di rumah makan beliau.

Lebih tepatnya jadi Tukang Parkir. Tadinya, aku sedikit gengsi untuk menjalankan hal tersebut. Namun, setelah menjalani ternyata menyenangkan juga. Bagaimana tidak menyenangkan, kerjanya cuma jagain sambil mengatur tempat supaya kendaraan tertata rapi. Yang lebih menyenangkan lagi, aku mendapatkan uang parkir juga dari para memilik kendaraan yang membeli atau berkunjung ke rumah makan tersebut.

Setiap mobil ngasih Dua Ribu, kadang Lima Ribu, sedangkan motor selalu ngasih Seribu. Lumayan, dari pada libur tidak ada kegiatan. Pernah setengah hari aku mendapatkan uang sampai lima puluh ribu, yang bikin aku senang lagi, Bapak Sajam tidak pernah minta bagi hasil, ketika aku berniat untuk membagi hasil pun beliau tidak mau menerima.

Bapak Sajam merupakan salah satu orang yang selalu melekat diingatanku. Karena, aku sangat mengidolakan orang-orang baik seperti beliau. Bagiku, semakin orang itu mempunyai sifat dan sikap yang baik, aku semakin mengidolakannya. Bukan hanya Bapak Sajam, banyak orang lain yang aku idolakan karena kemuliaan akhlaqnya. Salah satu harapanku mengidolakan orang-orang seperti Bapak Sajam adalah supaya aku bisa seperti mereka.

Diajak Berwisata ke Puncak Bogor

pixabay.com

Hal ini juga merupakan salah satu kenangan yang masih teringat hingga sekarang. Ya… Pengalaman pertama kerjaku memang membawa banyak kenangan. Waktu itu, keluarga pemilik rumah makan tempat aku kerja mengadakan liburan ke Puncak Bogor.

Perkiraanku, aku akan diamanati untuk menjaga Rumah Makan. Tidak ada pikiran bahwa aku akan diajak. Tapi, aku tidak tahu apa sebabnya hingga aku diajak untuk ikut liburan ke Puncak Bogor. Aku pun dengan senang hati langsung menerima ajakan tersebut. Karena aku sama sekali belum pernah  ke Puncak Bogor.

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih empat jam, akhirnya sampailah di Puncak Bogor. Di sana aku tinggal di vila kurang lebih satu minggu. Selama di sana aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Hampir setiap tempat wisata yang dekat dengan vila aku kunjungi.

Hingga akhirnya pulang kembali ke jakarta dengan keadaan puas dan senang. Di bilang cape… pasti cape. Tapi, aku sangat senang dengan momen tersebut.

Melanjutkan Pendidikan

pixabay.com

Waktu terus berjalan sampai sekitar kurang lebih dua bulan, aku ditelfon Orang Tua untuk pulang. Dengan alasan untuk melanjutkan pendidikan. Sebenarnya, waktu itu aku sudah merasakan nyaman di tempatku kerja. Karena aku sudah bisa beradaptasi dengan pekerjaanku, dan juga karena sudah banyak kenalan.

Namun, aku juga berpikir pendidikan itu penting. Akhirnya, aku pun dengan keadaan sedikit terpaksa minta izin untuk pulang ke pemilik rumah makan tempat aku kerja.

Waktu itu, di kampung juga mau mengadakan hajatan pernikahan kakakku yang pertama. Jadi, mau tidak mau aku harus pulang.  Akhirnya, selama kurang lebih dua bulan, aku mengakhiri pekerjaanku di Rumah Makan Seruni.

Pengalaman Adalah Guru Terbaik

pixabay.com

Buatku pengalaman adalah guru terbaik. Karena dari pengalaman pertama kerja, aku banyak belajar tentang hidup mandiri, dan pentingnya menjadi orang yang baik. Jika kita baik, pasti akan dipertemukan dan dikumpulkan dengan orang-orang yang baik pula.

Pengalaman pertama kerja juga mengajariku, bahwa pendidikan juga penting, karena pendidikan merupakan salah satu faktor pendukung memiliki pekerjaan yang lebih layak.

 

Pengalaman Masa Kecil Generasiku yang Dekat dengan Alam

Cerita tentang pengalaman masa kecil merupakan hal yang sangat menyenangkan, di mana masa itu belum mengenal susahnya mencari uang dan stres ketika banyak pikiran. Kerjaannya cuma main, makan, belajar, dan tidur. Jika aku disuruh kembali ke masa kecil lagi. pasti  mau, hehe….

Namun kenyataannya, hidup tidak semuanya bisa seperti apa yang kita inginkan, itu sudah menjadi ketetapan Tuhan. Yang aku rasakan dari waktu ke waktu hidup itu belajar,  semakin usia bertambah semakin tahu tentang kehidupan.

Makanya banyak yang mengatakan menghargai orang yang lebih tua itu wajib, karena mereka yang lebih tua pasti pengetahuan tentang kehidupan sudah lebih banyak.

pexels.com

Kembali lagi ke tema pengalaman masa kecil, boleh dibilang aku itu generasi tahun 90-an, karena aku lahir di tahun 1993, jika aku boleh berpendapat, itu generasi terakhir anak-anak belum mengenal teknologi canggih, masih ikut generasi tempo dahulu. hehe….

Kenapa? Karena jika aku perhatikan anak-anak yang lahir pada abad ke-20 ke atas, belum berusia remaja bahkan ada yang baru 5 tahun sudah pada memakai handphone, mainnya juga dengan teknologi dan dunia internet.

Ya… kembali lagi, itu sudah merupakan ketetapan Tuhan. banyak kata-kata bijak yang menjelaskan tentang dunia masa depan, bahwasannya dunia itu, seiring berjalannya waktu akan menuju kehancuran, kalau aku sih… percaya.

Ya… bagi mereka yang menjalankan hal itu, mungkin itu baik dan menyenangkan. tapi… kalau aku yang merasa bukan generasi abad ke-20, itu merupakan hal yang kurang baik, karena menurutku mengoperasikan handphone dan bermain di dunia internet itu ada tujuan dasarnya.

Sedangkan kalau anak-anak pasti kebanyakan menggunakan itu untuk bermain dan mencari hiburan, dan akan lebih cenderung ke hal yang negatif.

Kalau aku, sebelum usia remaja kegiatanku lebih banyak bergelut dengan dunia petualangan. Ya… masa kecilku lebih banyak bermain dengan alam. Seperti naik bukit, gunung, bermain di sungai, mencari ikan, kepiting, dan udang.  Pokoknya aku tuh kaya anak pedalaman. hehe….

Pengalaman Masa Kecilku Bermain di Bukit Cimelong

pexels.com

Bukit Cimelong merupakan salah satu bukit yang terletak di Desaku. Pengalaman masa kecilku, bukit ini cukup favorit di tempatku, karena jaraknya yang ngga terlalu jauh, dan banyak yang dituju. Pengalamanku pertama kali naik ke bukit ini, masih terkenang hingga sekarang.

Waktu itu aku masih berusia 10 tahunan. Aku berdua dengan saudaraku berniat untuk naik ke Bukit Cimelong, dengan tujuan menyusul orang tua yang sedang memanen kacang kulit. Sebelumnya aku dan saudaraku belum pernah naik ke bukit tersebut.

Sebenarnya kami berdua belum dapat izin untuk naik ke bukit tersebut, karena perjalanannya yang berat dan penuh rintangan. Bagaimana tidak, untuk mencapai puncak bukit harus melewati jalan yang nanjak dan terjal, menyebrangi sungai, jauh dari rumah penduduk, dan jalannya pun tidak satu arah.

Tersesat Karena Salah Ambil Jalur di Perempatan

pexels.com

Masih cerita pengalaman masa kecilku pertama naik Bukit Cimelong. Kejadian ini terjadi setelah aku dan saudaraku menempuh jarak sepertiga perjalanan ke bukit tersebut. Saat itu kami berdua bertemu dengan perempatan terakhir untuk arah sampai bukit tersebut.

Waktu itu seharusnya mengambil lurus, namun karena kecerobohan kami berdua yang belum tahu jalan. Kami berdua belok ke kiri, karena bukit itu sudah terlihat di sebelah kiri atau searah dengan jalan yang ke kiri tadi, maklum di hutan tidak ada plang penunjuk jalan. hehe….

Ternyata setelah ditelusuri itu bukan jalan untuk sampai ke puncak Bukit Cimelong, karena terpotong jurang yang cukup dalam. Waktu itu kami berdua sangat ketakutan akan tersesat, karena jika ambil jalan pulang masih belum hafal jalannya.

Tapi mau gimana lagi, dari pada tidak sampai tujuan dan tersesat, karena belum tahu jalannya, aku sama saudaraku bernekat menerjang rintangan tersebut.

Akhirnya kami pun sampai juga ke tempat tujuan, meskipun dengan perjalanan yang cukup menakutkan. Setelah sampai, kami langsung ketemu sama orang tua dan saudara-saudara yang terlebih dahulu di bukit tersebut.

 Setelah menemui orang tua, kami berdua istirahat sebentar di gubuk kecil sambil menikmati semilir angin, sebelum membantu mamanen kacang kulit.

Akhirnya Kena Marah Juga

pexels.com

Tadinya, aku dan saudaraku berniat untuk menyembunyikan tentang salah ambil jalan tadi, karena kalau ketahuan pasti akan dimarahi. Tidak lama ketika sedang istirahat, paman mendekat dan ternyata sudah tahu kalau aku dan saudaraku tadi habis kebingungan dijalan, maklum paman aku yang ini sudah menguasai semua jalan menuju puncak bukit tersebut.

Akhirnya, kami di tegur keras supaya tidak nekad dalam hal yang belum tahu, apa lagi tidak ada media untuk bertanya seperti jalan menuju ke puncak Bukit Cimelong. Ya… aku paham, paman begitu karena takut terjadi hal yang tidak di inginkan.

Bukit Cimelong Tempat Aku dan Teman-teman Bermain

pexels.com

Generasi di kampungku yang seumuran denganku dulu masih suka bermain ke kebun, Sungai, bukit, atau bahasa kerennya ngebolang. hehe…. Salah satunya Bukit Cimelong yang sering kami kunjungi, meskipun cukup jauh dan menantang perjalanannya, tapi tak mematahkan semangat aku dan teman-teman.

Apa lagi ketika musim hujan, anak-anak di kampungku suka mencari jangkrik, dan Bukit Cimelong merupakan salah satu tempat persembunyian para Jangkrik-jangkrik, nama jangkriknya kalau di kampungku Jangkrik Sungu. Ciri-cirinya ada garis kuning di punggung lehernya.

Mungkin di setiap daerah namanya berbeda-beda, jangkrik itu sangat susah dicari di kampungku, kecuali kalau di bukit-bukit masih cukup banyak. Hampir setiap liburan atau Hari Ahad, aku dan teman-teman pasti banyak yang rela menempuh jalan yang menantang demi mendapat seekor jangkrik.

Pengalaman Masa Kecilku, Mandi di Sungai Tengah Hutan

pexels.com

Ini hal yang biasa aku dan teman-teman lakukan ketika perjalanan pulang, karena di tengah perjalanan ke bukit terbentang sungai tak berjembatan. Sungainya kecil, tapi… kalau lagi musim hujan, bisa meluap dengan arus kencang, kalau lagi meluap, aku dan teman-teman ngga berani untuk menyebrangi sungai tersebut, apa lagi mandi di sungai tersebut.

Tapi, kalau lagi ngga meluap, airnya tenang dan jernih sangat cocok untuk berendam. Makanya tak jarang ketika perjalanan pulang dari bukit tersebut, aku dan teman-teman sering mampir berendam sambil melepas rasa lelah. Pokoknya hidupku bersahabat dengan alam.

Membuat Rumah Jangkrik

pexels.com

Ini kebiasaan kami setelah mendapatkan jangkrik. Biasanya, jika dapat Jangkrik, ketika sampai di rumah langsung membuat rumah untuk Jangkrik tersebut.

Caranya cukup mudah, yaitu dengan bambu atau kayu yang sudah kering, lalu di belah tipis-tipis dan di bagian yang bersudut tajam, ditumpulkan dan dihaluskan. Setelah itu dirangkai atau disusun berbentuk persegi empat, lalu diikat dengan karet gelang.

Satu persegi empat biasanya di bagi beberapa petak, tergantung Jangkrik yang didapatnya, satu petak buat satu jangkrik biar keliatan jangkriknya bagian penutup atas menggunakan kaca yang bening. Habis itu biasanya aku dan teman-teman berkumpul untuk memamerkan keindahan jangkrik yang didapatnya.

Demikian, sebagian pengalaman masa kecilku yang cukup dekat dengan alam, yang mungkin tidak ada di zaman yang semakin maju seperti sekarang ini, pengalaman masa kecilku masih banyak lagi, dengan berbagai tema yang menarik, kita sambung next time.